Aliran-aliran Pendidikan

 


 

    Hai Pelajar kali ini kita akan belajar mengenai macam-macam aliran pendidikan. Mengapa perlu mengetahui macam-macam aliran pendidikan? Karena dengan memahami hal tersebut kita akan tahu  dan dapat menangkap hakikat dari setiap dinamika perkembangan pemikiran mengenai pendidikan yang sedang terjadi.

    Aliran-aliran pendidikan ini hadir sejak manusia hidup dan berkembang dalam suatu kelompok atau masyarakat dengan pemikiran manusia itu sendiri yang bervariasi dalam mengatasi suatu problem atau masalah. Bermacam-macam pemikiran mengenai pendidikan tempo dulu telah memberikan konstribusi yang berarti bagi pelaksanaan praktek pendidikan yang pengaruhnya meluas hingga ke Benua Eropa dan Amerika. Jadi logikanya aliran-aliran pendidikan ini sebagian besar berasal dari kedua benua tersebut.

    Pada setiap aliran pendidikan mempunyai pandangan berbeda dalam memandang perkembangan manusia. Hal ini berdasarkan atas faktor-faktor dominan yang dijadikan sebagai dasar pijakan bagi perkembangan manusia. Aliran-aliran pendidikan antara lain sebagai berikut:

1. Aliran Pendidikan Nativisme

Tokoh: Arthur Schepenhauer (1788-1869) seorang filosofis Jerman

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Arthur_Schopenhauer
Gambar 1. Arthur Schopenhauer

      Istilah Nativisme berasal dari kata ‘natives’ yang artinya terlahir. Aliran ini berpendapat bahwa “ perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu lahir itulah yang menentukan hasil perkembangannya”. Menurut jenis aliran nativisme ini pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan.

     Aliran nativesme berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor bawaan sejak lahir. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri.

     Dalam Ilmu Pendidikan pandangan seperti ini disebut ‘pesimistis pedagogis’ yaitu Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Penganut aliran ini menyatakan bahwa “kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak mempunyai pembawaan baik maka dia akan baik”. Menurut mereka baik buruknya seorang anak ditentukan oleh pembawaan sejak lahir, dan peran pendidikan disini hanya sebatas mengembangkan bakat saja. Contoh: seorang remaja SMA memiliki bakat musik, walaupun orang tuanya sering menasehati bahkan memarahinya supaya belajar hal lain dan melarang bermain musik, tapi fikiran dan perasaannya tetap tertuju pada musik dan dia akan tetap berbakat menjadi pemusik.

 

2. Aliran Pendidikan Naturalisme

Tokoh: JJ. Rousseau (1712-1778) seorang filosof Prancis

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Jacques_Rousseau
Gambar 2. Jean Jacques Rousseau

    Istilah Naturalisme berasal dari kata Nature artinya alam atau yang dibawa sejak lahir. Aliran Naturalisme berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik dan tidak satupun dengan pembawaan buruk. Perkembangannya seseorang kemudian sangat ditentukan oleh pendidikan yang diterima atau hal-hal yang memengaruhinya. “Jika yang memengaruhinya itu baik maka akan baik hasilnya. Namun jika yang memengaruhinya buruk maka akan buruk pula hasilnya”. Aliran ini juga disebut negativism.

     Sebagaimana dikatakan oleh tokoh aliran ini yaitu J.J Rousseau sebagai berikut: “semua anak adalah baik pada waktu baru datang dari Sang Pencipta, tetapi semua rusak ditangan manusia”. Oleh karena itu sebagai pendidik Rousseau mengajukan ‘pendidikan alam’ artinya anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya, manusia atau masyarakat jangan banyak mencampurinya. Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan. Yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan.

  Sebaiknya pendidik membiarkan anak berkembang sesuai pembawaan sejak lahir dan proses pendidikan diarahkan saja kepada alam. Hal ini dimaksudkan pembawaan baik tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan.

    Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat sehingga kebaikam anak-anak yang diperoleh secara alamiah sejak saat kelahirannya itu dapat berkembang secara spontan dan bebas. Ia mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaanya, kemampuan dan kecenderungannya.


3. Aliran Pendidikan Empirisme

Tokoh: John Locke (1632-1704)

Gambar 3: John Locke

    Istilah aslinya aliran ini yaitu The school of british empirsm (aliran empirisme Inggris). Doktrin utama aliran emperisme yang sangat terkenal adalah “Tabula Rasa” yaitu sebuah istilah bahasa latin yang berarti buku tulis yang kosong. Doktrin tabula rasa menekankan arti pentingnya pengalaman, lingkungan dan pendidikan. Perkembangan manusia semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya. Dalam pendidikan kaum empiris ini terkenal dengan nama “optimisme pedagogis”.

    Menurut pandangan empirisme bahwa peran pendidik sangat penting sebab akan mencetak anak didik sesuai keinginan pendidik. John lock menganjurkan agar pendidikan di sekolah dilaksanakan berdasarkan kemampuan rasionya dan bukan atas perasaannya. Mendidik menurut jhon locke adalah membentuk pribadi anak sesuai dengan apa yang dikendehaki.

 

4. Aliran Pendidikan Konvergensi

Tokoh: Wiliam Stern(1871-1913)

  Aliran Konvergensi merupakan gabungan dari aliran-aliran di atas, aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia, tidak hanya berpegang pada pembawaan, tetapi juga kepada faktor yang sama pentingnya yang mempunyai andil yang lebih besar dalam menentukan masa depan seseorang. Setiap pribadi merupakan hasil konvergensi dari faktor-faktor internal dan eksternal. Perpaduan antara pembawaan dan lingkungan keduanya menuju pad titik pertemuan  yang terwujud sebagai hasil pendidikan. Aliran konvergensi mengatakan bahwa pertumbuhan dam perkembangan manusia itu adalah tergantung pada dua faktor, yaitu

a.      a. Faktor bakat atau pembawaan

b.      b. Faktor lingkungan, pengalaman atau pendidikan

     Inilah yang disebut teori kovergensi (convergentie= penyatruan hasil, kerjasama mencapai satu hasil. Konvergen = menuju atau berkumpul pada satu titik pertemuan). Menurut Wiliam Stem (1871-1939), seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya lingkungan yang baik dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk pengembangan itu. Contohnya pada hakikat kemampuan anak berbahasa dengan kata-kata merupakan hasil konvergensi. Pada anak manusia ada pembawaan untuk berbicara dan melalui situasi lingkungannya anak belajar berbicara dalam bahasa tertentu. Lingkungan pun memengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya, karena itu anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya.

    Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, aliran konvergensi dipandang lebih realistis, sehingga banyak diikiuti oleh pakar pendidikan. Aliran ini semakin berkembang pada abad XX. Sebagai kelanjutan dari perkembangan aliran ini tumbuh “gerakan baru” dalam dunia pendidikan.

Dalam teori W. Stern disebut teori konvergensi (memusatkan ke suatu titik). Jadi menurut teori konvergensi dikatakan:

a.       a. Proses pendidikan mungkin dapat dilaksanakan

b.  b. Untuk mengantisipasi tumbuhnya potensi yang kurang baik, proses pendidikan dapat dijadikan penolongnya;

c.     c. Pembawaan dan lingkungan dapat membatasi hasil pendidikan seorang anak.

    Dari tiga model teori tersebut cukup jelas bahwa semua yang berkembang dalam diri individu dapat ditentukan oleh pembawaan dan juga oleh lingkungannya. Anak yang mempunyai pembawaan baik dan didukung oleh lingkungan pendidikan yang baik akan membawa anak menjadi semakin baik dan semakin cerdas. Sebaliknya lingkungan yang tidak baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat pembawaan yang baik.

 

5. Aliran Progresivisme

Tokoh: John Dewey

 

Gambar 4. John Dewey

    Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan, ataupun masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya.

    Aliran ini memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan. Hal itu ditujukan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan jika dibanding mahluk lain. Manusia memiliki sifat yang dinamis dan kreatif yang didukung oleh kecerdasannya sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah. Peningkatan kecerdasan menjadi tugas utama pendidik, yang secara teori mengerti karakter peserta didiknya.

  Peserta didik tidak hanya dipandang sebagai kesatuan jasmani dan rohani, namun juga termanifestasikan di dalam tingkah laku dan perbuatan yang berada dalam pengalamannya. Jasmani dan rohani, terutama kecerdasan, perlu dioptimalkan. Artinya, peserta didik diberi kesempatan untuk bebas dari sebanyak mungkin mengambil bagian dalam kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya, sehingga suasana belajar timbul di dalam maupun di luar sekolah.

 

6. Aliran Konstruktivisme

Tokoh: Giambattista Vico, seorang epistemiolog Italia dan Jean Pieget

Gambar 5. Giambattista Vico


Gambar 6. Jean Piaget



     Giambattista Vico mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan. Mengerti berarti mengetahui sesuatu jika ia mengetahui. Hanya Tuhan yang dapat mengetahui segala sesuatu karena Dia Pencipta segala sesuatu itu. Manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang dikonstruksikan Tuhan. Bagi Vico pengetahuan dapat menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk. Pengetahuan tidak bisa lepas dari subjek yang mengetahui.

  Aliran ini juga dikembangkan oleh Jean Piaget. Melalui teori perkembangan kognitif, Pieget mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungannya. Pengetahuan merupakan suatu proses, bukan suatu barang. Menurut Piaget mengerti adalah proses adaptasi intelektual antara pengalaman dan ide baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya sehingga dapat terbentuk pengertian baru.

    Piaget juga berpendapat bahwa perkembangan kognigtif dipengaruhi oleh tiga proses dasar yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Asimilasi adalah perpaduan data baru dengan struktur kognigtif yang telah dimiliki. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kogniftif terhadap situasi baru, dan ekuilibrasi adalah penyesuaian kembali yang secara terus menerus dilakukan antara asimilasi dan akomodasi.

    Aliran konstruktivisme ini menegaskan bahwa pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kogniftif dalam diri seseorang melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindra. Dengan demikian aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan dari seseorang kepada orang lain dengan alasan pengetahuan bukan barang yang dapat dipindahkan, sehingga jika pembelajaran ditujukan untuk menstranfer ilmu maka perbuatan itu akan sia-sia. Sebaliknya, kondisi ini akan berbeda jika pembelajaran ini ditujukan untuk menggali pengalaman.

 



Ok Pelajar semoga kalian paham apa yang saya paparkan di atas dan semoga berkah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 














 

DAFTAR PUSTAKA

Amanudin. 2019. Pengantar Ilmu Pendidikan. Tanggerang Selatan: UNPAM Press.

Sibuea, Stevania Primadanny. 2013. Dasar Dasar Pendidikan Aliran Pendidikan. Makalah.

Meilinda, Aisyah, dkk. 2014. Aliran Aliran Pendidikan. Makalah



 Sumber Gambar

Gambar 1: https://id.wikipedia.org/wiki/Arthur_Schopenhauer

Gambar 2: https://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Jacques_Rousseau
Gambar 3: https://id.wikipedia.org/wiki/John_Locke
Gambar 4: https://www.psychologymania.com/2011/09/john-dewey-tokoh-aliran-pragmatisme.html
Gambar 5: https://id.wikipedia.org/wiki/Giambattista_Vico
Gambar 6: https://id.wikipedia.org/wiki/Jean_Piaget
Share:

2 komentar:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Recent Posts

Pengikut