BELAJAR DARI CORONA

 

NOVELET

Bab I

Libur Corona

     Namaku Irul, aku adalah pelajar SMA yang bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri 2 di sekitar Wilayah Jakarta. Umurku bisa dibilang lebih tua daripada teman-temanku di kelas, padahal aku sendiri belum pernah tinggal kelas. Ahhh...  mungkin karena ibu menyekolahkanku dulu ketika Tk terlambat, pasalnya aku baru saja kelas 2 SMA umurku sudah 19 tahun berjalan. Jadi setiap melakukan perkenalan aku sedikit malu ke teman-teman, tapi tidak apa-apa lah meskipun aku lebih tua dibanding teman-teman, aku sendiri bisa dapat peringkat 5 di kelas, setidaknya aku merasa tidak tertinggal dari teman-teman dalam hal pelajaran.

     Sekolahku memang aneh, bukan aneh karena kualitas ataupun fasilitasnya tapi karena komposisi siswa, antara laki-laki dan perempuan pada setiap kelas pasti banyak perempuannya. Di sini kelasku adalah yang paling banyak siswa laki-lakinya yaitu sekitar 30% dari jumlah seluruh siswa di kelas. 

     Suatu ketika aku ada di kelas, aku dan dua temanku lainnya disibukkan dengan membicarakan tentang virus corona, jarang-jarang mereka membahas berita, biasanya mereka gosip mengenai artis atau ghibah teman sesekolahnya sendiri. Salah satu temanku bernama Wiwin bertanya tentang virus corona tersebut,

“ E... Katanya sekarang ini ada virus baru dan keren ya?“  tanya Wiwin.

“Iya namanya corona 19 dan denger-denger sudah masuk ke Indonesia? !” jawab sekaligus pertanyaan dari Ela dengan nada yang lantang.

     Ela adalah temanku yang suaranya paling nyaring apabila dia berteriak, julukan yang spesial dari dia adalah speker kelas. 

     Tiba-tiba seorang temanku yang bernama Epi menghampiri kami bertiga sekaligus menjelaskan tentang virus itu dengan gayanya yang sok tau.

“He bukan Corona 19 tapi Covid 19, Covid itu namanya dan 19 itu tahun lahirnya, sedangkan Corona itu nama virusnya” ucap Epi.

“Iya-iya pokoknya itu, tapi kenapa sekolah kita tidak diliburkan? “ pangkas Wiwin.

     Memang benar penjelasan Epi sama di Tv 9 (nama sebuah Chanel Tv)  dan katanya Indonesia sendiri sudah di serang virus corona, namun hanya beberapa orang saja. Tapi karena adanya virus ini Presiden mengeluarkan kebijakan WFH (Work from Home), sekolah,  bekerja, dan aktivitas lainnya dilaksanakan di rumah. Maka dari itu besar kemungkinan sekolah akan libur. Seorang temanku yang bernama Wiwin tak sabar lagi ingin menikmati liburan itu dan ingin refreshing dari jenuhnya sekolah.

     Obrolan kami terus berlanjut cukup lama, mereka saling lempar opini padahal belum tentu benar, mereka beropini tanpa mengambil referensi yang jelas. Tapi, ya ngak papa lahwong ini hanya sekedar obrolan.

     Anehnya si Wiwin yang terlihat agak kecewa karena dari tadi belum ada pengumuman ataupun singgungan dari pihak guru mengenai keputusan Presiden tentang pembelajaran dari rumah. 

Ih... Bagaimana sih kepala sekolah kita, wong sekolah lainnya udah pada libur kok sekolah kita belum ada wacana pun mengenai ini”   tanya Wiwin dengan perasaan yang tidak bersyukur.

lha.... Emangnya kamu ingin apa to ?, sekarang kan memang waktunya sekolah ujian kan masih lama, kalau sudah ujian baru kita mikir libur” jawabku. 

Gini lo Irul,  ketika kita libur kita bisa glowing, luluran, nyantai ke pantai tidak mikir soal yang harus dikerjakan ataupun PR” sahut Wiwin.

“ Betul sekali Win, kamu memang jos....  aku berdoa semoga libur  kali ini panjag sekali, biar aku puas, Aamiin ” Sahut Epi dan donya yang penuh harap.

     Memang teman-temanku itu agak aneh padahal sekolah itu bayar tapi kok mereka lebih suka libur. Tapi bukan tanpa alasan, mungkin karena jenuhnya mereka dengan pelajaran dan banyaknya tugas. Sehingga mereka merasa banyak beban hidup. 

     Tapi mereka salah memaknai keputusan Presiden tentang belajar di rumah adalah libur. Aku pun menjelaskan kepada mereka bahwa belajar di rumah itu tetap KBM tapi dengan metode yang lain seperti internet, intinya proses pembelajaran tidak boleh berpapasan secara langsung. Penjelasan ini saya dapatkan dari mendengar radio bintang Tenggara.

     Tiba-tiba ada bel sebuah pemberitahuan berbunyi dari speker yang ada di pojok atap kelas. 

“Tulilt-Tulittt.. ..”

     Semua sontak diam  dan kaget karena masih pukul 9 sudah berbunyi. Tapi itu bukan bel pemberitahuan tentang istirahat, bisanya kalau bel istirahat itu pukul 9.30. Ternyata bel itu adalah tentang prosesi pembelajaran yang menganggapi keputusan dari presiden tentang pembelajaran dari rumah.

     Semua kelas tiba-tiba tenang, mendengarkan pemberitahuan itu dan penuh harap akan adanya libur sekolah.  Ya. .. Memang betul itu adalah pengumuman yang diharapkan teman-teman yang disampaikan oleh P. H. Tashil yang waktu itu memang sebagai waka kesiswaan. Pada inti pemberitahuan ini, berisi bahwa mulai hari ini seluruh kelas melaksanakan kegiatan KBM melalui daring (dalam jaringan) dan sampai batas yang belum ditentukan. P. H Tashil juga mengingatkan untuk selalu jaga jarak,  pakai masker, dan cuci tangan dengan sabun.

     Para siswa senang bukan main termasuk aku, mereka kegirangan bak mendapat permata berlian, sampai si Wiwin jingkrak-jingkrak saking bahagianya. Ia lupa bahwa waktu itu ia memakai rok, ketika ia kegirangan naik ke atas kursi yang sudah agak lapuk. 

     Tanpa disadari ternyata roknya nyangkut, karena ia semangat berlebihan akhirnya ia kepleset dari kursi dan jatuh dengan rok yang robek.

“Waduh celanaku robek” ucap Wiwin dengan nada keceplosan.

     Karena satu kelas kegirangan jadinya hanya aku yang kedengaran. Sebenarnya aku tidak ingin melihat itu, tapi karena memang lagi kaget jadi pandanganku spontan menghadap ke dia.

     Epi sebenarnya juga melihatnya, karena agak jauh tempat duduknya, jadi ia hanya tertawa kecil dan menutupi bagian mulutnya. Aku yang kaget pun bingung dan hanya melongo. untung tidak sampai 3 detik aku ada ide, aku segera menutup mataku dan memberikan jasku yang ada di meja agar ia gunakan untuk menutup roknya, dengan hati yang malu aku mengeluhkan tanganku tapi dalam hatiku berkata berbuat baiklah pada seseorang. Maka dari itu aku ingin membantunya untuk menutupi kejadian kecil tapi kalau kelihatan malu juga.

     Tidak lama kemudian wali kelasku datang untuk menyampaikan ulang info dari waka kesiswaan, lalu dilanjutkan berdoa bersama dan pulang dengan tertib.



Bab II

Belajar, Bekerja di Rumah

     Memang mengasyikan pembelajaran dari rumah. Yap .... itung-itung mengurangi tugas, tidak pulang sore, dan pastinya hemat bensin. Di rumah bisa tiduran makan sesuka hati tanpa takut dimarahi cikgu.

     Namun ada rotan ada di duri, kayaknya durinya lebih banyak, saya pikir-pikir belajar di rumah memang tidak efektif banget. Pasalnya aku hanya lihat WA grup aja yang isinya guru mapel dan teman-teman sekelasku, aku hanya menunggu pemberitahuan dari guru yang erat sekali dengan penugasan, padahal kadang-kadang materi pembelajaran belum dijelaskan tapi tugas selalu ada.

     Sifat malas yang melekat di tubuh tak kunjung hilang setiap hari, kalau tidak ada tugas ya lihat youtube, media sosial dan lain-lain sampai ngantuk dan akhirnya ketiduran.  kadang-kadang juga ada tugas banyak aku sering lupa, waktu bangun aku pun langsung teringat tugasku yang hampir habis deadline pengumpulannya, kejadian ini sering terulang selama pembelajaran daring. Aku pun kadang kadang tidak sempat mengerjakan mandiri langkahku mengambil jalan ninja, yaitu copas jawaban dari teman. Sebenarnya aku takut cara ini tapi karena kondisi yang sulit ya.... daripada tidak mengumpulkan sama sekali.

     Setiap hari kok sama saja seperti ini hingga suatu ketika ibuku datang dan menanyakan aku yang di kamar.

“Irul kamu kok tidur aja katanya pembelajan Daring” pertanyaan dari ibu.

“ I... iya bu, lha... wong tidak ada tugas” jawabku singkat.

“ Berarti libur kan ?...  ya kalau libur jangan tidur aja, kayak orang malas, bantu pamanmu di sawah besok!”

“Iya” dengan perasaan yang berat hati saya menyetujui suruhan ibu. 

     Aku disuruh Ibu membantu paman mencangkul di sawah keesokan harinya. 

     Keesokan Harinya, pagi-pagi aku berangkat bersama paman jalan kaki menuju sawah dengan membawa cangkul di pundakku, belum saja sampai ke sawah kakiku sudah agak lelah mungkin karena jauhnya antara rumah dan sawah dan mungkin karena saya tidak pernah olahraga.

     Sesampainya di sawah pamanku langsung mengajariku bagaimana cara mencangkul yang benar, aku pun memperhatikan dengan baik dan dalam hati berkata “Halah cuma begitu saja kecil”. lalu setelah diberi tahu caranya, aku pun langsung disuruh mencoba untuk mencangkul oleh paman.

     Awalnya memang mudah namun setelah 9 sampai 10 cangkulan badan rasanya pegal-pegal aku tidak tahan rasanya ditambah lagi aku harus selalu bungkuk (posisi orang mencangkul), tapi tetap aku tahan rasa pegal ini, karena aku malu masak segini saja langsung KO dan Aku kan anak laki-laki yang notabenya katanya harus kuat, aku pun melanjutkan mencangkul.

     Baru saja 20 sampai 21 cangkulan tanganku mulai bergetar, punggungku pegal, dan cangkulanku kekuatannya melemah, sambil sesekali memutar badanku kesana-kemari dengan raut muka seperti orang lelah.

Loh kenapa le kok mringis-mringis wajahnya?” Tanya pamanku.

Ndak papa kok pak lek, tapi rasanya pegal sekali,  rasanya punggung ini seperti mau patah aja...” jawabku dengan perasaan agak mengeluh.

“Oh ya. .. istirahat dulu, jangan dipaksakan namanya juga masih belajar” kata Pamanku.

     aku pun berhenti sejenak untuk beristirahat lalu setelah dirasa hilang pegalnya meskipun tidak sepenuhnya, aku langsung melanjutkan pekerjaanku. Semakin lama semakin panas pula, cuaca hari ini sangat panas, kulitku yang sudah hitam ini kayaknya akan semakin hitam gara-gara matahari. 

     Tepat matahari berada di atas kepala dan terdengar suara qiroah dari masjid di sekitar sawah, itu tandanya sudah akan mulai istirahat. Pamanku mengajakku pulang ke rumah dengan jalan kaki juga. 

     Sesampainya di rumah aku makan siang lalu dilanjutkan mandi, setelah itu aku pun jamaah di masjid sekitar rumah.  Setelah selesai sholat di masjid aku pun langsung membuka WA grup Daring,  ternyata sekarang ada tugas yaitu mapel bahasa Indonesia. Tanpa berpikir lama aku pun langsung mengambil jurus ninja yaitu copas jawaban teman, lalu aku pun tidur karena badan ini rasanya pegal sekali hari pertama di sawah. 

     Kejadian ini terus berulang, aku mencangkul di sawah beberapa hari karena sawah pamanku cukup luas. Memang benar kata motivator “Bisa karena Biasa”. Awalnya aku memang kelelahan, namun hari-hari berikutnya aku merasa biasa saja,  ya...  lelah tapi tidak seperti hari pertama. Setelah pulang dari sawah aku pun tidak lupa untuk mengerjakan tugas dari guruku, ya...  Meskipun copas pekerjaan teman.

     Hingga pada Hari keempat saya di Wa pribadi oleh Bu Setya pengajar mapel Bahasa Indonesia, saya di beri peringatan atas tugas yang diberikan hari kemarin. Kesalahannya karena aku melakukan plagiasi pekerjaan temanku mengenai tugas novelet dari Bu Setya. Bu Setya memang guru paling keren dan sangat teliti bahkan beliau tahu kalau seumpama karya dari siswa itu plagiasi separuh maupun seluruh karnyanya beliau tahu persis, layaknya sebuah aplikasi turnitin. Beliau adalah salah satu guru favoritku karena hanya Bu Setya yang pernah mengirim atau menyurvei anak didiknya dengan mengirim google from yang isinya pertanyaan tentang hambatan, metode yang sesuai, dan tugas. Ini membuktikan guru yang selalu mengerti dan memahami keadaan siswanya, tidak seperti guru lain yang hanya memberi tugas tanpa mengetahui keadaan siswanya.

     Tak lama Hpku berdering, ternyata Bu Setya yang menelefon, aku pun langsung mengangkat telefonku ini. 

“Assalamualaikum, le Irul..? “ 

“ Waalaikumussalam warahmatullah, iya Bu’ dengan saya Irul”

“ Kamu kemarin nyonto pekerjaan temannu ya...?” tanya Bu Setya penuh curiga. 

     Hatiku langsung berdebar takut dimarahi guru favorit, aku pun menjawab dengan seadanya, beliau juga menyangka alasanku kenapa tidak mengerjakan tugas, aku pun menjawab membatu orang tua. Lalu Aku diberi tahu dan arahan tentang kegiatan copasku. 

“Irul. ... kalau ingin jadi berkah pekerjaan atau tugas sekolah kalau bisa itu jangan nyonto,  apalagi cuman tinggal ganti nama saja, kamu itu sebenarnya anak pintar maka kembangkan akalmu dan jangan menodai dengan caramu copas pekerjaan temanmu!“ ucap beliau yang halus dan penuh  harap.

“Iya Bu’, maafkan saya tapi...  Sekarang ini saya masih membantu orang tua saya di sawah ya Bu’. Terkadang juga guru-guru ada yang memberi tugas kadang pula tidak,  jadi daripada saya diam di rumah dan hanya tiduran saja lebih baik saya membantu sedikit demi sedikit paman dengan mencangkul di sawah. Lalu setelah itu saya lelah sedangkan tugas harus dikumpulkan secepat mungkin jadi ya saya nyonto saja agar efesien “ jawabku.

“ Iya...  Saya tahu kamu membantu orang tua di sawah,  namun kamu sebagai pelajar juga tidak boleh meninggalkan tugas ya....,  tapi kan kamu Dzuhur sudah pulang, jadi saran Ibu tolong jangan lupa dengan tugas ataupun nyonto di temanmu, Ibu peduli denganmu Irul.  Kamu kan masih bisa jam 1-3 siang mengerjakan tugas. Masalah tidurmu itu kamu pending saja, atau mungkin jika kamu lelah sekali kamu bisa mengumpulkan tugas pada malam hari, saya terima kok asalkan ada alasan yang jelas, aku yakin kamu bisa Rul, jadilah dirimu sendiri” kata Bu Setya.

     Sebenarnya aku masih ada waktu namun hari-hari sebelumnya memang aku sangat malas dan lebih memilih nyonto tugas lalu tidur daripada mengerjakan sendiri yang butuh mikir. Tapi setelah ada dorongan dari guru favoritku aku pun tergugah untuk tidak nyonto apabila ada tugas. 

     Lalu aku mengiyakan nasihat dari Bu Setya dan ingin merubah sedikit demi sedikit cara belajarku.  Aku yakin Bisa karena Biasa,  aku pun mulai saat itu tidak menyontek pekerjaan teman, dan lama-lama akhirnya aku terbisa tidak menyontek pekerjaan teman. 

     Aku pula pernah mengadu kepada ibu mengenai kegiatan di sawah, yang menurutku tidak sesuai dengan angan-anganku,  

“Bu, kenapa sih aku disuruh ke sawah sedangkan aku sendiri masih sekolah,  seharusnya kan belajar bukan malah ke sawah” pernyataanku pada ibu.

Gini lho Le....  kamu kan biasanya kalau belajar di rumah suka tidur-tiduran, malas-malasan di kasur dan hanya megang hp yang belum tentu pada waktu itu kamu mengerjakan tugas,  biasanya kamu kan main medsos aja, jangan jadikan musim Covid 19 ini sebagai pendukung rasa malasmu le... Ibu hanya ingin kamu itu mempunyai kepribadian yang rajin” jawab ibu.

“ Tapi kan seharusnya paling penting kan belajar Bu! “ jawabku yang sebetulnya hanya rasa kesal pada Ibu.

Enggih lee.  Ibu tahu...  Belajar kan tidak harus dengan media sekolah atau pembelajaran oleh sekolah,  kamu di sawah kan juga belajar untuk merawat tanaman, memanen, serta pemupukan le...  Itu kan termasuk pengetahuan juga kan?,  satu lagi jika kamu ke sawah kamu akan banyak gerak, jadi anggaplah itu sebagai media olahragamu kamu kan jarang bahkan tidak pernah sama sekali olahraga jika ada di rumah? Ucap Ibu.

“Ooo. ..iya Bu’, Njenengan benar, dan maafkan Irul sudah berpikiran aneh kepada Ibu” Jawabku.

Iya le gak papa namanya juga tidak tahu. Dan ingat pesan Ibu le.... Jadikanlah masa sulit seperti pandemi ini sebagai alasan untuk kamu menjadi orang yang lebih baik, jangan banyak mengeluh jika kita melakukan sesuatu, entah itu tugas sekolah yang banyak ataupun membantu pamanmu di sawah, kamu harus banyak bersyukur dan mengerjakan sesuatu sesuai aturannya,  yaudah semangat le....! “ 

“ Iya Bu’, terima kasih banyak...  telah menyemangatiku,  dan semoga aku menjadi orang yang lebih baik” jawab sekaligus doa yang aku harapkan.

     Lalu ibuku mengaminkan do’a ku dan meninggalkan aku yang ada di kamar.  Ibuku memang penyemangatku di setiap hari hariku, pasti beliau memberikan wejangan-wejangan yang intinya aku harus bisa menjadi orang yang berpikiran positif dan tidak gampang mengeluh. Hari-hari berikutnya aku selalu memegang teguh pernyataan ini. 



Bab III

Ujian Daring

     Selama kurang lebih enam bulan virus Corona tak kunjung hilang juga, dan esok hari Senin sudah jadwalnya ujianku untuk kenaikan kelas. Aku harus fokus pada ujian kali ini,  maka aku tidak lagi ikut kegiatan ke sawah. 

     Pada ujian kali ini sekolah juga mengadakan dengan Daring (dalam jaringan). Ujian ini akan dilaksanakan serentak satu sekolahan dan dibagi beberapa sesi per kelas dan angkatan, takutnya jika diseragamkan pada jam yang sama satu sekolah, nanti servernya down

     Masalah selanjutnya yang datang yaitu ujianku di hari yang sama dengan adikku yang sekarang masih sekolah kelas lima SD, yang mempunyai Hp android hanya aku saja di keluargaku.  Hpku pula masih 3G dan dengan ram hanya 1 Gb jadi aku ketar ketir bisa joinan Hp dengan adik. 

     Aku pun mencari pinjaman di saudara dan tetanggaku, tapi sialya Hp mereka juga digunakan semua. Jadi alhasil saya tidak mendapatkan Hp pinjaman dan terpaksa aku harus gantian Hp dengan adik. Sesekali saya ingin mengeluh tentang ini, tapi aku masih ingat pesan dari Ibu untuk selalu berpikir positif dan tidak gampang mengeluh. 

     Ternyata, Alhamdulillah jadwalku tidak berbarengan dengan adik meskipun di hari yang sama, adikku pada jam 9--12. Aku pada jam 12-14 jadi masih bisa untuk gantian memakai Hp dengan adik.

     Keesokan harinya sudah waktunya ujian, Hpku digunakan oleh adik dahulu. Lalu aku mengajarkan bagaimana cara mengoperasikan Hp karena memang dia tidak pernah memegang Hp sama sekali. Sebelumnya ketika pelajaran daring biasa, dia tahunya soal dan penugasan melalui Hpku ini yang telah dimaksukan di Grup WA nya adikku. 

     Setelah adikku selesai barulah saat ini giliranku. Ujian di rumah tidak sama di sekolah, di rumahku saat ini juga ada pengrusuh yaitu adikku yang kedua, sekarang masih umur 4 tahun, kadang-kadang Ia mengajak main, atau tiba-tiba mukul-mukul, ambil kertas pelajaranku dibawa kesana-kemari, dan lain-lain. Kadang juga membuatku agak kesal ingin memarahinya tapi bagaimana lagi, dia kan masih kecil tak sampai hati aku memarahinya. Aku tetap harus berpikir positif dan aku usahakan untuk tidak mengeluh. 

     Proses gantian Hp ini berlangsung selama ujian hingga akhir ujian, kadang kala aku juga kehabisan baterai karena Hp ini agak ngedrop , jadi mau tidak mau harus ujian sambil charger juga. 

     Ujian di waktu korona ini menggugah hati untuk melakukan plagiasi di google karena pasalnya guru tidak tahu apakah pekerjaan yang saumpama kita kerjakan itu dari hasil plagiasi atau bukan. Tapi kala itu aku langsung ingat perkataan Bu Setya untuk menjadi diri sendiri agar menjadi berkah. Aku pun mengurungkan niatku untuk googling dengan dalih ingin mencari keberkahan nilai. 

     Alhasil ketika pengumuman kenaikan kelas dan pembagin raport, tidak nyangka aku juara 1 di kelas mengalahkan Amin si Bintang kelas, aku pun tidak nyangka apa sebetulnya yang dihitung nilai ujian atau tugas,  pasalnya aku sendiri tidak terlalu pintar-pintar amat. Mungkin yang dihitung adalah nilai tugas keseharian. Kalau itu benar, aku adalah orang yang paling lengkap tugasnya dan paling original menurutku. Soalnya aku lihat kemarin-kemarin itu, seperti Amin yang pada sebelumnya dia bintang kelas, tapi karena mungkin dia agak males dalam mengerjakan tugas, maka aku pun dapat mengalahkan nilainya. Aku pun bersyukur dalam hal ini. Dan apakah ini yang dinamakan berkah?. 

     Tak lama kemudian ketika aku selesai melihat nilai raport aku dipanggil oleh pamanku, aku pun langsung mendatanginya dan ternyata aku diberi uang sebesar Rp 500.000 ribu yag katanya upah mencangkul beberapa hari kemarin, awalnya aku menolak di kasih uang sebanyak itu padahal aku hanya membantu sekitar sepuluh hari. Namun karena beliau memaksaku dan aku pun sebenarnya butuh uang,  lalu kuterima uang dari pamanku tadi dengan perasaan yang sangat bahagia. 

     Aku sangat bersyukur sekali mendapatkan juara kelas serta upah dari pamanku. Uang yang tadi aku terima dari paman bisa sedikit membantu untuk biaya sekolah yang sudah menunggak 3 bulan belum aku bayar.  Inilah bukti bahwa usaha tidak akan menghianati hasil. Menurutku yang paling penting dalam hidup ini adalah berusaha menjadi lebih baik, tidak mengeluh, dan selalu berpikir positif walaupun dalam situasi sulit seperti pandemi virus corona sekarang ini. Orang yang selalu berpikir positif akan banyak kesempatan di dalam kesempitan, tapi orang yang negatif akan selalu bingung (sulit memilih) di dalam suatu kesempatan.



Terimakasih  😀

Semoga Berkah


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Recent Posts

Pengikut