OPINI
![]() |
| Ilustrasi Pembelajaran Tatap muka dulu |
Kondisi pandemi covid 19 yang berkepanjangan telah melahirkan kebijakan ‘Daring' atau biasa pula disebut pembelajan jarak jauh (PJJ). Sebagian sekolah proses pembelajaran ini telah berjalan 1 tahun terhitung sejak Maret 2020, namun ada pula sekolah yang sudah menerapkan sistem tatap muka mulai dari 25 % atau 50 % siswa masuk sekolah. Artinya siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka tidak semuanya dan sistem pembelajaran Daring tetap melekat di sebagian peserta didik.
Keluhan orang tua terhadap kondisi menurunnya semngat belajar bagi siswa pada saat pembelajaran metode daring merupakan suatu keniscayaan. Siswa yang mulai menurun semangat belajarnya atau dengan kata lain tidak memiliki motivasi untuk belajar (demotivation) dikarenakan memiliki banyak permasalahn yang terjadi pada saat pembelajaran Daring.
Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan sistem Daring ini telah melahirkan banyak permasalahan yang dihadapi baik oleh siswa, guru, maupun orang tua. Ada sebagian guru dalam KBM Daring materi belum selesai disampaikan oleh guru kemudian guru mengganti dengan tugas lainnya, hal ini merupakan salah satu yang menjadi keluhan bagi siswa karena tugas yang diberikan oleh guru lebih banyak.
Permasalahan lain dari sistem KBM Daring adalah akses koneksi internet yang terkendala oleh sinyal yang menyebabkan lambatnya mengakses informasi. Siswa yang tertinggal dengan informasi berakibat pada keterlambatan mereka dalam mengumpulkan suatu tugas yang diberikan guru. Belum lagi guru yang harus memeriksa banyak tugas siswanya yang telah dikumpulkan membuat penyimpanan gadget semakain terbatas.
Dari banyaknya permasalahan yang dihadapi ketika KBM Daring, masalah yang paling krusial adalah menurunnya motivasi bahkan tidak adanya motivasi (demotivation) siswa dalam kegiatan pembelajan. Hal tersebut merupakan sinyalemen akan menurunnya prestasi akademik para siswa.
Kata demotivation menurut kamus Inggris-Indonesia memiliki arti penghambat motivasi. Menurut G.R Van denBos (2007), demotivation merupakan citra negatif atau self-talk negatif yang menekankan mengapa seseorang tidak dapat melakukannya dengan baik dalam sebuah tugas sehingga menghambat upaya untuk melakukan itu.
Guru dapat mengetahui jika para siswa kehilangan motivasi dengan melihat tanda-tanda berikut: pertama, semangat belajar dan bertanya yang menurun. Kedua, banyak siswa yang tidak mengikuti KBM Daring pada jadwal yang sesuai. Ketiga, siswa lebih suka googling daripada menjawab dengan pengetahuan atau idenya sendiri. Keempat, banyaknya siswa yang tidak mengerjakan tugas dengan baik. Kelima, absenteeism (absen tanpa alasan yang jelas).
Agar bisa meningkatkan kembali motivasi peserta didik guru terlebih dahulu harus mengetahui penyebab hilangnya motivasi, salah satunya yaitu komunikasi yang tidak terjalin dengan baik. Seringkali guru tidak menjelaskan tujuan yang ingin dicapai saat melakukan pembelajaran. Selain itu, guru seringkali mengabaikan ide atau pendapat dari para siswa. Kedua hal tersebut menyebabkan siswa merasa tidak memiliki kepentingan dalam proses KBM Daring.
Agar motivasi peserta didik bisa terjaga, guru sebaiknya menjalin komunikasi dua arah, bahkan multi arah. Sehingga antara siswa dengan guru mengetahui target keinginan yang akan dicapai dalam KBM Daring. Dengan begitu tingkat keterlibatan kerja akan meningkat.
Tidak adanya penghargaan atas prestasi. Guru sebaiknya memberikan penghargaan atas setiap pencapaian atau prestasi yang diperoleh siswa. Bentuknya bisa beragam mulai dari dari ucapan selamat, hingga pemberian bonus (Reward) entah itu berupa nilai maupun barang berharga. Dengan memberikan penghargaan peserta didik akan merasa hasil kerja kerasnya dihargai. Hal ini tentunya akan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan mengerjakan tugas lebih baik lagi.
Model penghargaan guru terhadap siswa sebagaimana pada jenjang TK/RA yang bisa menjadi referensi meski tidak sama persis. Pada peserta didik jenjang Paud, TK, dan RA terlihat siswanya selalu begairah mengikuti pembelajaran dan mempunyai keberanian yang tinggi selalu menunjukkan hasil karya mereka, karena mereka berasumsi memperoleh penghargaan gurunya meski hanya berupa pujiam lisan, dan itu sudah lebih dari cukup bagi mereka.
Selanjutnya demotivation belajar akibat rasa jenuh. Rasa jenuh atau bahasa kerennya burnout bisa membuat siswa kehilangan motivasi. Tugas-tugas yang berlebihan justru membuat siswa kehilangan gairah belajarnya. Hal ini dapat terjadi karena tidak adanya keseimbangan antara penyampaian, model pembelajan, dan tugas yang diberikan.
Pembelajan Daring tidaklah identik dengan tugas. Oleh karena itu, guru harus mengurangi frekuensi tugas pada siswanya. Selain memberikan tugas guru harus pula mempunyai feedback (timbal balik) berupa pembahasan soal atau tugas yang telah dikerjakan siswa. Karena mengingat banyak guru yang hanya memberi tugas tanpa membahas tugas tersebut di kemudian hari. Akibatnya banyak siswa yang bingung tentang kebenaran atau ketepatan pada jawaban mereka.
Jika mereka diberi pembahasan tentang soal yang telah dikerjakan, pastilah mereka tahu meteri apa saja yang belum paham dan materi yang telah dikuasai. Selain itu, para siswa juga akan merasa bahwa tugas mereka tidak hanya dikumpulkan begitu saja, melainkan ada pembahasan mengenai hasil pekerjaannya. Akibatnya mereka tidak asal-asalan dalam menjawab soal atau mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Satu hal lagi yang perlu dimengerti oleh guru, bahwa menyajikan menu pembelajaran sama seperti halnya menyajikan menu makanan. Guru adalah koki yang mampu meracik menu pembelajaran yang mengundang selera para siswanya untuk belajar. Koki yang hanya mampu menyajikan menu-menu masakan yang itu-itu saja dan basi maka pelanggan pun tidak berselera, malas, bahkan menjauh.
Hal ini sama dengan menu pembelajaran yang diracik oleh guru. Para siswa akan kurang selera dalam KBM Daring, penyebab hal ini adalah menu pembelajaran yang tidak menarik, basi, dan itu-itu saja. Oleh karena itu, guru harus mampu menyajikan menu-menu pembelajaran yang up to date dan fun.
Agar sesuai selera siswa, guru dapat melakukan survei mengenai metode Daring yang siswa sukai melalui google form maupun voting di grup Daring siswa. Sehingga mampu meningkatkan gairah belajar siswa.
Dengan mengetahui penyebab menurunnya motivasi belajar pada siswa, guru seharusnya dapat mengatasinya. Sehingga semangat belajar siswa tinggi dan pada akhirnya prestasi akademiknya meningkat.
Semoga Bermanfaat
Terimakasih 😃







Tidak ada komentar:
Posting Komentar